Untung Jutaan Rupiah dari Kain Perca

Kata kain perca, tentunya sudah tidak asing di kalangan masyarakat. Kain perca merupakan limbah tekstil. Limbah yang tekstil yang dimaksud berupa potongan-potongan kain, seperti katun, satin, nilon, dan jenis kain lainnya.

Potongan kain yang sudah tidak terpakai tersebut dapat dimanfaatkan untuk membuat benda baru yang bernilai, seperti tas kain perca, tatakan gelas, sprei, sarung bantal atau kerajinan tangan lainnya dengan bahan baku kain perca.

Kain perca ini mungkin sudah tidak memiliki nilai ekonomis bagi pengusaha konveksi namun bagi seorang wirausahawan yang kreatif, kain perca ini memiliki banyak manfaat. Lusia Hariyany menurut https://www.bandungadvertiser.com/ meraup untung jutaan rupiah dengan menjalankan usaha kerajinan tangan dengan bahan baku kain perca.

Lusia Hariyany, owner dari Amira Handicraft ini sukses menjalankan bisnis kerajinan tangan dengan bahan baku kain perca. Ia merintis bisnisnya pada tahun 2004. Bisnisnya dirintis sejak ia membuat sulaman di kerudung, sarung bantal, dan baju.

Menurut https://undercover.co.id/ Berawal dari membuat sulaman tersebut, Lusia Hariyany berpikir untuk merintis usaha kerajinan tangan dengan memanfaatkan bahan dasar kain perca menggunakan teknik sulaman quilts dan patchwork. Teknik tersebut membutuhkan keahlian khusus, namun Lusia menekuninya dengan penuh kesabaran.

Ketekunan yang Membuahkan Hasil

Ketekunan Lusia berbuah hasil, ia menciptakan kerajinan tangan dengan bahan baku kain perca menjadi kerajinan tangan yang bernilai tinggi. Kerajinan tangan yang dibuat murni buatan tangan tanpa dibantu mesin jahit. Keseluruhan produk Amira Handicraft dibuat dengan menggunakan teknik patchwork, applique,dan quilts. Patchwork sendiri dapat diartikan sebagai seni menggabungkan kain perca dengan berbagai macam aneka warna menggunakan motif yang mengikuti pola berulang dengan cara dijahit menggunakan tangan. Berbeda dengan teknik patchwork, applique merupakan seni yang digunakan untuk membentuk gambar dari potogan kain yang ditempel di atas permukaan kain kemudian dijahit menggunakan tangan. Sedangkan quilts merupakan teknik yang digunakan untuk menyempurnakan teknik patchwork dan applique. Lebih jelasnya, quilts merupakan teknik jahit tindas yang dilakukan dengan cara menyisipkan sejenis busa dakron atau silikon pada lembaran kain yang memiliki ukuran yang sama. Teknik quilts ini digunakan untuk merapikan sehingga kerajinan tangan yang dihasilkan akan memiliki ketebalan yang rapi, indah dan unik.

Pada awalnya, dalam satu bulan Lusia dapat memproduksi 20 tas, 2 bed cover, 8 sarung bantal, dan 2-3 taplak meja. Namun, dari semua produk yang dihasilkan tersebut, produk yang paling laris dan banyak dicari konsumen adalah tas. Hal tersebut karena kebanyakan konsumen Amira Handicraft adalah wanita, yang mana wanita lebih suka pamer dengan cara gonta-ganti tas. Selain produk tas yang laku di pasaran, bed cover juga banyak peminatnya. Produk Amira Handicraft ini mematok harga kisaran Rp45.000,00 hingga Rp4.500.000,00, tergantung detail teknik yang diterapkan untuk kerajinan tersebut.

Bermodalkan Lima Juta Rupiah Amira Handicraft Berdiri

Bermodalkan hobinya yang suka menjahit dan menyulam sejak duduk di bangku SMP, Lusia mendirikan Amira Handicraft. Hobi yang semula ia hentikan karena kesibukannya mengurus rumah tangga, ia lakukan lagi pada tahun 2004, saat ia mengikuti suaminya pindah kerja ke Surabaya. Kesibukannya mengurus rumah tangga yang mulai berkurang karena anak-anaknya sudah SMA mendorong Lusia, mulai menyalurkan hobinya kembali.

Hobinya mulai tersalurkan karena banyaknya pesanan yang berawal dari para tetangga, kemudian dari mulut ke mulut banyak yang memesan sulamannya. Hal tersebut mendorong Lusia memberanikan diri membuka Amira Handicraft pada tahun 2015. Modal awal untuk membuka usahanya tersebut sebesar lima juta rupiah. Modal tersebut digunakan untuk membeli kain dan benang.

Saat mengawali usahanya, Lusia mengerjakannya sendiri dan hanya dibantu satu karyawan. Lusia merupakan pribadi yang tekun, ia terus melakukan inovasi dan mengembangkan produknya dengan menggunakan berbagai macam aplikasi dan teknik patchwork, applique dan quilts. Semua teknik tersebut, ia pelajari dari buku. Namun, Lusia tidak berpuas diri hanya di situ saja, untuk mendalami teknik patchwork, ia mengikuti kursus selama 3 hari dari seorang guru berkebangsaan Jepang yang berdomisili di Jakarta. Langkah selanjutnya yang dilakukan Lusia adalah melakukan promosi Amira Handicraft yang ia lakukan dengan cara mengikuti pameran. Pameran yang diikutinya pun membuahkan hasil, banyak konsumen dan reseller  datang dari berbagai daerah untuk memasarkan produknya.

Lusia pun masih tekun memasarkan produknya, maraknya penjualan online sangat membantu dirinya untuk memasarkan produk Amira Handicraft. Lusia pun memaksimalkan digital marketing dengan dibantu menantunya dalam memasarkan produknya melalui media sosial seperti facebook, twitter, dan website. Menurut Lusia, digital marketing sangat membantu karena dapat menjangkau ke seluruh wilayah nusantara. Alhasil, konsumennya saat ini sudah menjangkau Jakarta, Bandung dan Medan. Bahkan Lusia berharap produknya dapat menjangkau luar negeri.